Sunday, June 08, 2014

Mari berbalas pantun

Join group BERBALAS PANTUN ( SENI WARISAN BUDAYA BANGSA) di Facebook. Tak sangka, ramai yang sudi membeli pantun. Terima kasih semua (yang pantunnya ditaip guna muka taip biasa - pantun teman dalam mukataip bold)

Waktu malam mengapa berpayung
Panas tidak hujanpun tidak
Sauh tenggelam sampan didayung
Manakan dapat memburu todak

Waktu malam memakai paying
agar tak kena najis binatang
patah layar sampan didayung
semuga selamat sampai keseberang

Burung puyuh tidur lengai
Di akar pauh di atas papan
Hendak berkayuh seberang sungai
Bongkarkan sauh bebaskan sampan

Hendak buru berjinak todak,
Bongkar sauh sampan tergesel;
Kalau terburu,impi kehendak.
Bimbang keluh,terlepasnya hasil.

Ikan cencaru dipotong rata
Jangan disimpan dalam pencalang
Yang diburu di depan mata
Jangan sejarah jadi penghalang

Candak perahu menuju hulu,
Candak berkias rasanya malu;
Diulang tahu,tidak lah mahu.
Sejarah diculas,biarkan berlalu

Hari hujan elok berpayung
Jalan berdua dengan rohana
Sauh tenggelam sampan didayung
Tentulah tidak akan kemana,

Patah layar sampan didayung..
Dayung sampai ketanjung jati..
Kesah yang lalu usah direnung..
Bena yang baru yang lebih berti..

Bakar sabut di bawah teduh
Badan berpeluh rehat di bangku
Kalau takut membongkar sauh
Usah dikeluh sampan terpaku

Dari jauh hanya dintai
Bila dekat terasa malu
Tali sauh hebat dirantai
Sudah terlekat antara batu

Bukan disekat terbang kelkatu
Angin di sini lembut tiupnya
Sauh terlekat antara batu
Timbulkan berani putuskan rantainya

 jalan sendiri ditepi pantai
Tersepak tunggul kayu melintang
Selam diri putuskan rantai
Bila menimbul sampan menghilang

Jari berdarah balut bersama
Kain kapas disiram cuka
Imbau sejarah janganlah lama
Takut lemas dirundung duka

Sauh tenggelam dasar lautan
Dayung ditangan mendayung sampan
Hajat menangkap todak didepan
Todak menjeling dengan senyuman

Sauh tengelam didasar lautan..
Lautan luas penuh gelombang..
Todak menjeling tanda berkenan.
Tanda meminta dibawa pulang

Didepan rumah tersusun bata
Untuk meletak pasu bungaan
Sambil senyum mengenyit mata
Pasti nelayan meradang sakan.

Jangan bedak dicampur kunyit
Pati santan usah di kaut
Kalau todak pandai mengenyit
Nelayan pengsan mabuk laut

Untung nya sabut timbul lah ia..
Untung tidak tengelam lah batu..
Mengenyit mata tanda mengoda..
Agar tercuit hati merindu

Lontar ayan tumpah si umbut,
Letak gayung sumbing sedikit;
Pengsan nelayan,mabuk laut,
Terlihat duyung,bingkas bangkit.

Sampan sudah tiada pendayung
Sauh putus rantai menghilang
Tidak diendah oleh si duyung
Minta dihantar hamba ke seberang

Pecah buyung ganti tempayan,
Beralas papan ketuk berkali;
Kasihnya duyung,pada nelayan.
Terbalik sampan,tak dipeduli.

Pada tingkap dikuak tangan
Lambai melambai daun senduduk
Kalau ditangkap oleh nelayan
Takut digulai dalam periuk

Resah mencari kasih terbilang
Bagai sampan rindukan ombak
Resah puteri kasih menghilang
Bagai nelayan rindukan todak

Dayung papan bersauh besi
Buah delima nakhoda hajati
Duyung jangan berlabuh pergi
Tuah panglima bertakhta dihati

Lebih sudu dari serdak
Roti dingin lemau rasanya
Bukan rindu pada si todak
Tapi ingin mencabar lajunya

Rebus jangan kukuspun jangan
Kalau nak masak siaplah awal
Todak jangan duyung pun jangan

Kalau nak makan carilah bawal

No comments: