Monday, November 16, 2015

SSP: Naluri Berkongsi

Dari darat menuju ke hutan
di teduh sena merehat diri
bagai sarat mengendong intan
ke tangan mana hendak diberi

Di teduh sena merehat diri
daun jatuh menyentuh semalu
ke tangan mana hendak diberi
tangan yang jauh teringat selalu

Daun jatuh menyentuh semalu
mengikat rotan sampai ke malam
tangan yang jauh teringat selalu
tersimpanlah intan di dalam genggam

Sunday, November 15, 2015

SSP: Sepetang di Ulu Sepri

Mudik ke hulu dalam sampan
bawa bekal beras bertampi
semat rindu padamu tuan
buat bekal ke alam mimpi

Dikerat-kerat pohon meranti
tak kan dapat tumbuh melata
telah tersemat di dalam hati
dirimu tuan tidak ku lupa

Kayu jati digilap bersih
buat tiang ukiran melati
dalam hati terpahat kasih
simpan sayang sampai ke mati

Cenderawasih terbang berkawan
hinggap datang atas tandu
hamba kasih padamu tuan
mengapa jarang mengutus rindu

Ingin berlagu di dinihari
mengintai bulan tidak jelas
mengirim rindu berhari-hari
sayangnya tuan tidak membalas

Saturday, November 14, 2015

SSP: Mengenang

Pucuk pauh buah berangan
diikat-ikat dengan tali
orang jauh jadi kenangan
hendak dilupa sukar sekali

Pucuk rebung dilentur-lentur
aur meliuk disapa bayu
kasih dan sayang berbaur-baur
bila diingat hatipun sayu

Pucuk salak dihinggap tempua
Lalu terbang hala setinggan
nasi ditanak untuk berdua
tapi hidang hanya sepinggan


Friday, November 13, 2015

SSP: Untaian Rindu

Air di kolam nampak rata
di cucur atap hujan menitik
hati di dalam meronta-ronta
ingin menatap wajah adik

Panjang rupanya seberang titi
belum dicuba elokkah lantainya
lama rasanya abang menanti
adik tiba bilakah masanya

Bila memakai kain batik
paras yang cantik semakin ayu
bila mendengar suara adik
hati yang rindu menjadi sayu

Rotan apa tidak berduri
payah pula untuk diregang
tangan hamba tidak berjari
hati adik tak dapat dipegang

Gunung tinggi hendak ditawan
kaki tersadung melangkah perdu
mengharap hujan dikandung awan
pipi basah menanggung rindu

Ke jeram mencari sunyi
ke laut mencari tenang
kasih dicari mana sembunyi
hanya memeluk bayang-bayang 

Apa guna berladang sirih
tidak berpinang tidak berpuan
apa guna menjunjung kasih
tangan menepuk tiada sambutan

Patah kayu dinding perigi
langsung roboh tidak terganti
kasih layu tak kembang lagi
hilang harum jambangan hati


Thursday, November 12, 2015

SSP: Sengaja Mendengar

riuh bergegar cerita dijaja
belum ditanya sudah menganga
kerja mendengar kerja sengaja
bukan hanya menadah telinga

belum ditanya sudah menganga
mulut meluas bagaikan dulang
bukan hanya menadah telinga
butir yang bernas perlu diulang

mulut meluas bagaikan dulang
mata tersembul kesungguhan
butir yang bernas perlu diulang
tanda timbul kefahaman

mata tersembul kesungguhan
lidah mencambuk bukan jenaka
tanda timbul kefahaman
bukan mengangguk setuju belaka

lidah mencambuk bukan jenaka
budi sebukit tidak diulas
bukan mengangguk setuju belaka
cuit sedikit menguji balas

budi sebukit tidak diulas
resam mengalir mengumpul selut
cuit sedikit menguji balas
jadi zahir yang belum disebut

resam mengalir mengumpul selut
pahit kata dianggap halwa  
jadi zahir yang belum disebut
baru nyata pengganggu jiwa

pahit kata dianggap halwa
kata bereja menguat gegar
baru nyata pengganggu jiwa
hasil kerja sengaja mendengar

Wednesday, November 11, 2015

SSP: Beban Empati

Di mana agaknya tepi
rasa cemburu yang bergelombang ini
melambung lambung warasku
di pelantar justifikasi

Tidak ditelah atau diduga
rentetan kasihan yang dibaja
terbit duri cemburu mencengkam hati
hingga ingin menggenggam tak tiris
ingin memandang tak lepas
menatang bagai milik sendiri
walau tiada setitik darahpun
yang menyegarkan jasadnya
warisanku

Entah bila agaknya
aku menyeberangi sempadan
dari wilayah kenal
ke daerah kasih

Aku tidak mampu berbuai
bersenandung cemburu
lalu izinkan aku berjaga
di jeti simpati

Tuesday, November 10, 2015

SSP: Kembali Manusia

Perlukah kau dengar
kisah yang telah kusimpan
sedang bagiku mahuku
padamkannya dari sejarahku

Usah kau kisah
bayang-bayang di belakang
sedang mataku maluku
tidak sanggup melihatnya

Pernahkah kau bayangkan
air mataku tiada lagi
sedang hatiku inginku
menyesali yang telah berlaku

Ku akui
tak mampu selamanya kuberlari
dikejar bayang-bayang kusendiri
dan setelah kuyakini
putihnya caramu terhadapku
kulepaskan ragu-raguku
mengadu di bahumu

Dengarlah kisah bayangan
agar esokku kembali ceria
dalam diriku tahuku

tiada insan yang sempurna

Monday, November 09, 2015

SSP: Perpisahan yang Sempurna

Sepasang tangan bersalaman
menanda sebuah perpisahan
ada yang ingin berlalu
apabila lerai salam yang kejap

Mungkin disusul sebuah dakapan
sentuhan dekat terakhir
sehingga masa dengan izin
menemukan semula dua jiwa
dua jasad yang sama, doanya

Mungkin ada air mata
mengiringi hiba sebuah perpisahan
terbit dari rindu yang lahir awal
sebelum jauh berjauhan
selepas dekat berdekatan

Sepasang tangan bersalaman
sebuah dakapan air mata iringan

Cukupkah ini melengkapkan ritual sebuah perpisahan
mampukan melahirkan redha di hati
pada melepaskan insan yang melekat di jiwa
pada menyiramkan janji bertemu kembali
pada menenangkan ombak sebak di dada

Kekosongan yang masih belum dapat kunamakan
pada perpisahan yang kesekian kali
memberi aku satu ajaran
tiada sebuah perpisahan yang sempurna

Yang nyata di depan mata ialah
peluang yang luas terbentang
untuk menyempurnakan

sebuah pertemuan

Sunday, November 08, 2015

SSP: Kembali KepadaNya

Saat itu telah tertulis
cuma kita yang tidak dapat menjangka
lalu mudah terkejut dan tidak menyangka

Kembali dia kepadaNya
mudah-mudahan dalam fitrah yang suci
dan terhimpun bersama hamba-hamba yang diredhai

Allah saja yang mencukupkan
luak yang dialami dari pemergian ini
lalu kembalilah kepadaNya untuk melengkapkan diri

Saturday, November 07, 2015

SSP: Padam

Telah habis dikikis
segala sisa masa dan rasa

hingga tidak teringatkan lagi
putus semua tali ke hati

bukan sekadar kelam
tapi telah padam

Friday, November 06, 2015

SSP: Kenangan

Sedikit demi sedikit
kenangan terserpih
keping-keping jadi debu
bertabur di sempadan ingatan

Makin berlalu
debaran yang dulu
selalu mengiringi nama
pandangan dan suara

Bukan selalu mengharapkan
abadinya sebuah rindu
andai jasad tiada lagi di depan mata
sekadar menadah embun
untuk menyegarkan kemanisan
yang pernah dihirup bersama

Dan kiranya
titis-titis hujan
hanya menyegarkan lumut lupa
biar saja kenangan itu serpih
berkeping-keping
dan luluh jadi debu
jauh dari lembaran hidupmu

Thursday, November 05, 2015

SSP: Tiba-Tiba Terasa

Berlembut hati mencari tenang
kembali tunduk mencari redha

Tersingkap hijab agaknya
tiba-tiba
untuk membuka kemungkinan
melengahkan penafian
yang selama ini sepantas refleks

Baru terasa penatnya
lama menggenggam kemas-kemas
sebuah pendirian keras
hingga ketara kesegaran
bila kendur otot kedegilan

Sesekali mengalah
terasa gagah

Sesekali mengaku lemah
terasa berhemah

Wednesday, November 04, 2015

SSP: Memandang Bayang-Bayang

Di satu sudut taman
di panahan matahari
yang kelihatan hanyalah bayang-bayang hitam
pipis dan kaku

Sifat-sifat nyata sekuntum bunga
tak terdaftar
di padang penglihatan

Mungkin begitu
kau memandang aku
hanya bayang-bayang
tanpa rupa yang dapat disentuh
tiada kelembutan yang dapat dihidu
semerah manapun aku
tetap hitam di matamu

Bila matahari semakin jatuh
bayang semakin panjang
hingga larut ditelan malam
luput dari matamu
menjauh dari mimpimu

Kau memandang aku
hanya bayang-bayang
kasihan


Puisi ini diterbitkan di Mingguan Malaysia, 20 Mei 2010

Tuesday, November 03, 2015

SSP: Sempadan dan Kemaafan

 

Kemaafan kau beri
pada dia
untuk dia mengerti
ruang yang ada untuknya
dan ruang yang kau simpan
milikmu

Kemaafan
teriring padanya harapan
tanpa dendam di hati
tanpa calar di dada
tanpa mendung di wajah

Pandanglah laut
dan fajar yang akan tiba
dengan mata yang jernih
tinggalkan malam
semalam

Moga dengan kemaafan
ada hari-hari yang tercipta
untuk diisi dengan bayu murni
dan sesekali
mengilas pandang mencari tenang

di sisi tulus peribadi

Monday, November 02, 2015

Seketika

Untuk seketika yang ada
kita berbicara
kecil-kecilan
dan menyimpan
soalan perasaan

Di seketika yang ada
kita merenung
yang ada di depan mata
dan mengabaikan
segala curiga

Seketika yang ada
untuk kita bermesra
bukan mengungkit derita

Sunday, November 01, 2015

SSP: Tikam Saja

Tikam saja
bilah yang bercabang itu
benamkan di mana-mana
yang kau suka

sementara marahmu masih ada
jadikan ia tenaga
buat menghunus dan melibas
melepas geram
tikam saja

Hunus mana yang berniat tulus?
Libasan mana yang menegak keadilan?
Gegar mana yang mencari benar?

Yang kau tikam aku
yang robek jatidirimu

Yang kau libas aku
yang carik tenagamu

Yang kau gegar aku
yang goyah pendirianmu

Silalah tikam lagi
bila marahmu kembali.